Cahaya Akan Mengambang di Hunza

Secara keelokan pekerti, kekayaan melimpah, kegemaran berbuat baik, serta cekatan membereskan potensi kerusuhan, sungguh Dammahum adalah mercusuar yang sempurna. Ya, mercusuar, begitu negeri itu mengecap pemimpin.

BELAKANGAN , beredar kabar jika pada dua pekan pra Idul Adha cahaya mahaindah jatuh di atas istananya. Beberapa imam masjid dengan tinggal di sekitar istana mengatakan cahaya itu berantakan menjadi kembang api pas di atap kamar pria paro baya itu.

Dammahum menyangkalnya. Pada para penghuni istana, dia meminta mereka mengabaikan kabar-kabari itu. Kepada para imam dan orang-orang bijaksana, ia meminta mereka tidak menetapkan membesar-besarkannya. ”Saya ini, ” katanya seraya mengelus rambutnya yang disisir klimis ke belakang, ”sebagaimana yang kalian tahu, hanya mantan koruptor yang tobat setelah nyantri beberapa tahun, ” tempo kata-katanya begitu tertata, ”dan menjadi mercusuar karena kehendak Allah, ” lanjutnya dengan wajah yang tegang. ”Jadi, kalaupun karamah turun ke negeri ini, rasanya Ia tidak akan memilih pribadi dengan masa lalu yang kelam ini. ”

Para imam dan orang-orang bijaksana menyimak. Mereka tahu kalau ayah tiga putra –yang menjadi wali kota di kota-kota di negeri itu– belum sempurna.

”Menjadi mercusuar itu tidak mudah. Merawankan tergelincir. Atau jangan-jangan hamba sudah berkubang lumpur tanpa sadar. Lagi pula, kalaupun saya memang baik, kami kaya dan punya posisi. Kalian tahu, bukan, beratnya pertanggungjawaban di akhirat belakang untuk orang yang hidupnya berlimpah? Kalian tahu, bukan, kalau masih banyak karakter miskin atau tanpa kedudukan yang lebih baik dari saya, tak terkecuali kalian? ”

Tapi, entah Dammahum sadari atau tidak, makin ia merendah, pesonanya sebagai mercusuar makin memancar. Orang-orang alim serta pemuka masyarakat makin besar kepadanya, makin merasa kampung mereka diberkati-Nya, makin merasakan kalau mereka tak lengah memilih. Tindakan Dammahum memenjarakan rakyat jelata dan para-para ustad beberapa waktu dengan lalu kini mereka sadari sebagai sesuatu yang benar. Dammahum, dengan semua kerendahhatian dan keilmuannya, tentu memiliki alasan kuat melakukan itu, pikir mereka.

”Stabilitas negeri tak bisa dianaktirikan, ” kata Dammahum waktu itu. ”Sebagai pribadi biasa tempatnya alpa dan keliru, sungguh mustahil saya bisa memuaskan hampir 300 juta rakyat negeri itu. Kalau saya melakukan kesibukan represif kepada beberapa pihak, artinya saya sedang menyimpan kepentingan dan hajat hidup lebih banyak orang. ”

Dulu kata-kata si mercusuar didebat atas nama hak asasi manusia, privilese berpendapat, dan hak memperoleh perlakuan yang sama dalam mata hukum. Orang-orang memintanya melepaskan pemimpin pesantren dengan juga guru spiritualnya karena penangkapannya tanpa dokumen kepolisian. Tapi, si guru malah dibuang ke Pakistan tanpa persidangan. Hal yang sama juga berlaku ketika Dammahum menangkap dua orang garin atas tuduhan otak terorisme yang tak pernah benar. Tuntutan itu makin sayup seiring waktu dan kebaikan-kebaikan yang Dammahum tumpuk di setiap hari hingga akhirnya… retorikanya tentang keutamaan rakyat tersebut menjelma hujan di sedang kehidupan yang kering kerontang.

Sungguh, tidak ada satu hal meragukan pun terkait kapasitasnya jadi hamba yang layak mampu karamah. Adakah negeri yang lebih teberkati selain negeri yang dipimpin seseorang yang saleh, bijaksana, adil, dan karamah jelang Hari Sundal Kurban?

Dammahum pun mulai menggelar indah ilmu di pelataran istana tiap bakda Jumat. Daripada Jumat ke Jumat mahkamah itu makin ramai. Lengah satu yang membetot penasaran orang-orang –bahkan dari asing negeri sekalipun– itu ialah cerita dan pengalaman Dammahum sebagai mercusuar. ”Kalian tentu bosan mendengar ceramah tentang itu dan itu teristimewa, ” begitu ia sering membuka majelisnya. ”Oleh sebab itu, saya akan berbagi tentang kemuliaan yang memeluk saya begitu erat maka hari ini. Saya berniat hal itu menulari kalian semua. ”

Tentu saja bunyi ”amin” bergemuruh meskipun, sejatinya, Dammahum belum mengatakan kemuliaan yang dimaksud.

”Oleh karena itu, ” matanya menyapu jamaah yang menyimaknya dengan takjub, ”dengarkan dengan khidmat. Dan cari cakap, apa yang menyebabkan saya akhirnya mendapatkan banyak karamah. ”

Kata-kata itu, di telinga jamaahnya, tidak terdengar pongah kecil pun.

”Kemuliaan itu adalah… ”

Tentu saja orang-orang menunggu.

”Diberi kemudahan bertemu dengan Jibril. ”

Menawan gaduh.

”Saya tidak akan berani mengutarakan ini kalau saya tak melewati ratusan pemeriksaan kembali atas siapa orang dengan kerap datang dalam wujud cahaya yang menembus langit-langit kamar saya. ”

Kini majelis sepi kembali. Wajah-wajah mereka menunggu dengan harap.

”Jibril meminta saya tentu memerintah negeri ini datang waktu yang tidak ditentukan. ”

Bagai dikomando, takbir bergemuruh.

”Jangan salah pendirian atau lekas berpikir yang tidak-tidak, ” kata Dammahum seperti mengantisipasi. ”Saya tetap saja menolak permintaan tersebut. Mana ada rajadiraja. Tak akan ada yang melibas Tuhan. Sejarah mencatat, pemimpin-pemimpin serakah selalu menjadi meneladan buruk kehidupan. Hammurabi di Babilonia, Heraklius di Kerajaan Romawi, Ramses di Mesir… ”

Orang-orang saling pandang. Mata itu memancarkan keterpukauan.

”Dan tahukah kalian kalau Jibril kecewa. Tapi, hamba rela dihukum asalkan jujur atas 300 juta anak buah ini bisa berakhir cepat. Kalian tahu, bukan, jika tujuh bulan lagi kita akan mengadakan pemilihan mercusuar baru? ”

”Wahai mercusuar kami, ” kata salah seorang berbudi dengan membungkuk. ”Demi Allah yang Mahabijaksana, tidak ada yang tidak mungkin kalau Ia berkehendak. Apalagi didukung rakyat yang merasakan betapa kepemimpinanmu memberikan banyak faedah. ”

”Terima kasih atas sanjungannya, wahai rakyatku, ” kata Dammahum. ”Saya tak ingin sedang membicarakan itu. Sampai bertemu Jumat depan. ”

*

Sepekan jelang Idul Adha, cerita tentang Dammahum dengan kerap bertemu Jibril makin santer. Entah siapa dengan menyebarnya. Tidak ada dengan mengaku atau berkoar-koar menyesatkan lantang sebab mereka tahu betapa si mercusuar tak menyukai sanjungan berlebihan.

Maka, majelis pekanan hari itu dihadiri perut kali lipat jamaah sejak biasa sehingga daya pengeras suara harus ditambah sebab rakyat meluber hingga ke luar gerbang istana. Orang-orang dari luar negeri pula banyak yang ingin mendapatkan ilmu dan pencerahan dan juga cerita dahsyat yang selama ini kerap mereka dengar dari yang lebih dahulu menghadiri majelis tersebut.

”Apakah betul Yang Mulia bisa bersemuka dengan Jibril? ” tanya salah seorang dari daerah dengan wajah penuh keingintahuan. ”Bagaimana rupanya? Apakah kami juga bisa mendapatkan karamah sebagaimana engkau, Yang Fadil? Ajari kami? Aku benar tidak bisa membayangkan jika memang bisa bertemu malaikat di Lebaran ini. ”

Itu hangat pertanyaan dari satu orang. Dammahum memberi kesempatan bertanya kepada 10 orang, cerai-berai jadi 20, lalu… di penanya ke-25, wajahnya murung pasi. Di samping si penanya, dengan jelas ia menyaksikan cahaya yang, boleh bagaimana, ia rasakan menatapnya dengan penuh kekejaman.

Meskipun begitu, Dammahum tetap menyelesaikan sesi tanya jawab itu dengan tertib. Menjelang asar, acara tersebut diakhiri dengan salat berjamaah yang diimaminya. Ketika mengutarakan salam di akhir bagian keempat, bulir keringat sejumlah buah kopi berebutan lahir dari keningnya begitu mendapati makhluk cahaya berada pada antara di saf kedua sebelah kanannya, meskipun segera ia merasa lega sebab melihat Jibril berada di saf pertama sebelah kiri.

”Wahai Jibril, engkau tentu tahu, bukan, apa yang menyebabkanku di ketakutan seperti ini? ” kata Dammahum begitu ia hanya berdua saja dengan Jibril di kamarnya dengan megah.

”Aku memang heran dengan wajahmu yang beberapa kali membuktikan ekspresi ketakutan, Dammahum, ” Jibril menggeleng. ”Tapi aku juga ingin tahu penyebabnya. ”

Dammahum menelan ludah. ”Ada makhluk cahaya sebagaimana engkau di majelis dan ikut kita salat berjamaah tadi, wahai Jibril. ”

”Masya Allah, ” bahana Jibril melengking gembira. ”Bagaimana mungkin aku tidak menyadarinya, Dammahum? ”

”Aku tidak tahu, ” kata Dammahum cepat. Kesempatan ini suaranya bergetar. Ia melongok ke luar jendela seolah-olah makhluk cahaya itu padahal menunggunya di sana. ”Aku belum pernah merasa secemas ini. Aku benar-benar kecil. Padahal, kau tahu sendiri, Jibril, kalau aku selalu heran bagaimana mungkin ego tidak menggigil dan ketakutan sebagaimana Muhammad Yang Luhur dulu, ketika pertama kala kita bertemu. Nah, kini makhluk cahaya itu sungguh-sungguh membuatku takut? ”

”Bolehkah aku memberi saran, Dammahum? ”

”Tentu itu yang aku tunggu, Jibril. ”

”Ini petunjuk yang sangat umum. ”

”Tidak barang apa. Katakanlah. ”

”Bagaimana kalau engkau bervakansi. ”

”Berlibur? ”

”Aku ubah sedikit kata-katanya menjelma: Bagaimana kalau kau berangkat ke suatu tempat? ”

Dammahum berpendapat.

”Entah untuk alasan menyegarkan pikiran, liburan, atau sekadar mendapatkan iklim baru, mercusuar yang dicintai rakyat sepertimu sangat berhak dan layak mendapatkannya. Makin negeri dalam keadaan sungguh-sungguh saja. Orang-orang kepercayaanmu benar amanah. Kau juga manasuka memilih, mau melakukannya sendirian atau bersama keluarga. ”

”Baiklah, Jibril, ” Dammahum melega-legakan aksen bicaranya. ”Aku akan menodong orang kepercayaanku menyewa jet pribadi sekarang juga… ”

”Kau tak perlu melakukannya, Dammahum, ” potong Jibril cepat akan tetapi tenang. ”Aku bisa mengirimkanmu ke tempat yang kauinginkan dalam satu kedipan. ”

”Oh, Jibril? ” Dammahum membelalak, antara bahagia dan tak membenarkan.

”Aku ialah Jibril, bukan yang asing. Jibril, Dammahum, ” suaranya meninggi.

”I—i—iya, Jibril, ” Dammahum terbata-bata. Bagaimanapun ia belum sudah mendengar suara malaikat menganjurkan seperti barusan.

”Katakan sekarang, ” desak Jibril. ”Kau ingin berjalan bersama keluarga atau sendirian? Aku bahkan bisa mengembalikanmu ke istana secepat beta memberangkatkanmu. Bahkan, kalau engkau menginginkan kepergian tanpa sepengetahuan orang-orang, termasuk keluargamu, hamba juga bisa melakukannya. ”

”Alhamdulillah. ”

”Kau ialah hamba pilihan, Dammahum. Ayah yang adil yang hampir tak mungkin dicari penggantinya di akhir zaman tersebut. Mari buat ini lebih cepat: ke mana engkau ingin kukirim? ”

Dammahum menimbang beberapa tempat.

”Kalau perlu, kau bisa menyebutkan hotel paling mewah dalam muka bumi. ”

Dammahum membayangkan Kulm di Swis, La Residence di Cape Town, Anantara al Jabar al Akhdar di Oman, Marina Bay Sands di Singapura, atau The Brando di Polinesia Prancis.

”Dammahum? ”

”Kirim aku ke Hunza, Jibril, ” bibirnya justru tidak menyebut hotel-hotel mewah tersebut. ”Aku ingin berdiam dalam penginapan sederhana yang terletak di kaki Karaposhi, Lady Finger, dan Everest. Apakah kau bisa menemukan tempat itu? ”

Jibril mengangguk. ”Sebuah penginapan yang dibuat dari kayu, daging yak bakar sebagai menu makan malam, cai dan roti cane kuah kari untuk sarapan, dan pekarangannya yang rimbun dengan aprikot, apel hijau, dan pokok ceri, akan menghadiahimu kedamaian. ”

Paras Dammahum semringah raya. Begitu ia berkedip, saat itu pula ia hilang dibanding kamar itu. Jendela berderit. Sesosok cahaya mengambang pada luar. Jibril tercekat. ”Kau tentu mengenalku? ” introduksi cahaya mengambang itu. ”Kau tak perlu menjawab apa-apa sebab wajah pucatmu telah memberi tahuku. ”

”Kau tidak menetapkan mencabut nyawaku, Izrail, ” kata Jibril dengan bahana bergetar. Kita sudah punya kavlingan tugas masing-masing. ”

”Kita? ” tanya cahaya mengambang itu dengan suara menggelegar dan mengerikan. ”Kau adalah jin yang terlena dengan sanjungan manusia. Kau boleh mengiakan Jibril di hadapan siapa pun, tapi aku tak diciptakan Allah untuk beradu. ”

Jin yang mengaku Jibril tersebut terdiam sebelum kemudian membabatkan pertanyaan. ”Kalau boleh terang, mengapa engkau berada dalam sini, wahai Izrail? ”

”Aku aneh, ” kata Izrail ragu, ”kenapa tadi Dammahum sedang berada di istananya, namun Allah menugaskanku untuk melepaskan nyawanya di utara Pakistan sebelum Lebaran. ”

Jin itu bakal berkata, tapi kerongkongannya laksana terbakar.

”Aku harus pergi ke lereng Hunza sekarang, ” kata pendahuluan Izrail seraya berbalik. ”Jangan-jangan ada Dammahum lain pada lereng Rakaposhi. Oh, bagaimana mungkin aku bisa keliru seperti ini! ” rutuknya sebelum lenyap dalam sepersekian kedipan. (*)

Lubuklinggau, Mei–Juni 2021


CATATAN:

Cerpen ini adalah bagian dari proyek Dammahum Series . Tiga seri yang telah terbit: ”Dammahum Jadi Mercusuar” (Jawa Pos, 1 Januari 2021), ”Mungkin Raqib Tak Henti Tertawa” (basabasi. co, 23 April 2021), dan ”Ganja Putih dan Peri Ungu untuk Kiai” (Koran Tempo, 27 Juni 2021).


BENNY ARNAS, Lahir dan berdikari d(ar)i Ulaksurung. Dua buku mutakhirnya: Ethile! Ethile! (novel, 2021) dan Lubuk-lubuk d(ar)i Lubuklinggau (naskah drama, 2021).