Dokter Nasionalis, Tantangan Profesi di Pusat Pandemi

DULU dokter dianggap profesi dengan sangat mulia. Orang yang memiliki profesi dokter dianggap ”perwakilan Tuhan” yang diturunkan ke bumi buat membantu manusia mengatasi penyakit & penderitaannya. Karena kemuliaan profesi itulah, dokter ditempatkan pada strata tertinggi dalam status sosialnya.

Tapi, zaman telah berubah. Lompatan teknologi, perubahan lingkungan, cara transaksi ekonomi, serta kondisi pandemi Covid-19 saat ini membutuhkan kehadiran bentuk kerja baru. Adaptasi kebiasaan perdana dalam menjalankan profesi menjadi bagian dari professional defense and resilience. Yaitu ketahanan dan pertahanan profesi dalam upaya melakukan perlindungan dan keselamatan serta upaya meminimalkan efek bagi dokter dalam menghadapi pandemi ini. Sebuah masa yang serupa dikenal sebagai era disrupsi (disruption).

Menurut Clayton M. Christensen, the concept of disruption is about competitive response, it is not theory of growth. Its adjacent to growth. But it is not about growth. Dibutuhkan manusia baru yang siap mengikuti semua perubahan dan tetap menjadi trendsetter, bukan semata-mata follower.

Fakta sejarah membuktikan bahwa proses pembentukan fondasi negara Indonesia pada awal abad ke-20 sehingga melahirkan semangat berdirinya Boedi Oetomo diawali dengan sebuah pendirian besar dari para emansipator keturunan yang tumbuh sebagai proses dalam kelompok sosial masyarakat. Mereka berupaya meningkatkan diri menuju kedudukan ilmuwan, sosial, ekonomi, politik, budaya, dan gender yang lebih layak dan menjadi bagian yang integral di dalam tata kehidupan masyarakat.

Salah satu komponen emansipator keturunan tersebut adalah kelompok dokter pribumi. Mereka menjadi pelopor semangat nasionalisme dan kesadaran berbangsa. Peran serta keberadaan para dokter pada zaman itu tidak terlepas dari sifat yang dibentuk melalui proses pendidikan kedokteran disertai sumpah serta etika yang harus dipatuhinya sebagai seorang dokter nasionalis.

Era ini para dokter Indonesia dengan nasionalis tengah membangun sistem pelayanan kesehatan di Indonesia, meninggalkan kontribusi politik, serta berfokus secara ala kadarnya pada kesehatan dan pengobatan selalu. Pada saat yang serupa, profesi dokter dihadapkan dengan tantangan yang sangat luar biasa, bahkan ancaman kepada eksistensi profesi yang dapat dibagi menjadi tantangan yang berasal dibanding dalam maupun luar.

Tantangan dari dalam terutama terpaut dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan kedokteran. Ini terkait dengan beberapa isu yang kerap kali diangkat media massa, misalnya dugaan malapraktik dokter, buruknya mutu penyajian dokter (terutama di fasilitas kesehatan tertentu), dan isu kolusi gratifikasi yang dinilai menghilangkan independensi tabib. Di sisi lain, saat ini dokter di Indonesia menjadi profesi yang sangat diharapkan berperan benar besar dalam penanggulangan pandemi Covid-19.

Sedangkan tantangan sebab luar saat ini adalah tuntutan globalisasi berupa mekanisme pasar sunyi yang telah masuk dalam zona jasa pelayanan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi ancaman dalam era industrialisasi pelayanan kesehatan atau era korporasi medis. Selain itu munculnya ancangan baru dalam tantangan kesehatan global, yaitu kesehatan global yang sudah dimulai pada 1990-an. Kesehatan ijmal cenderung mendukung program vertikal, intervensi teknologi, dan inovasi di bagian farmasi.

Semua tersebut terbangun akibat penyakit tertentu yang menular (emerging dan reemerging disease), mengancam kehidupan manusia melewati batas-batas negara, serta membutuhkan respons yang kuat dan terkoordinasi yang meninggalkan kapasitas pemerintah nasional. Salah satunya yang saat ini terjadi di seluruh dunia, yaitu Covid-19.

Mengatasi pandemi Covid-19 ini perlu penekanan pada biosecurity dan upaya untuk mencegah persebaran keburukan menular. Termasuk meningkatkan perhatian dalam inisiatif horizontal, seperti program masa panjang untuk memperkuat layanan kesehatan nasional, pelayanan kesehatan primer, pendidikan kesehatan masyarakat, atau keterlibatan asosiasi dalam penyusunan inisiatif kesehatan.

Problematika profesi kedokteran di Indonesia sepertinya sudah mencapai bercak nadir yang harus segera memperoleh penyelesaian. Bahkan saat ini telah masuk dalam kondisi gawat genting (emergensi) yang harus segera diresusitasi untuk dapat mempertahankan hidupnya (life saving). Mengembalikan pamor dokter Indonesia yang nasionalis menjadi urgensi dengan saat ini harus dilakukan.

IDI mempunyai tanggung jawab dengan besar di usia yang ke-70 tahun untuk mewujudkan dokter nasionalis. Seperti halnya fondasi yang telah diletakkan para dokter nasionalis pendahulu yang manfaatnya bukan hanya untuk masyarakat profesi, tapi juga dirasakan seluruh masyarakat Indonesia. Semangat itu sudah tertulis di mukadimah Taksiran Dasar IDI, yaitu menjadi organisasi yang memiliki nilai-nilai profesionalisme, moralitas etik dan moral, pengabdian, kemandirian, serta kesejawatan untuk melakukan upaya-upaya memajukan, menjaga, dan meningkatkan harkat dan martabat dokter Indonesia. (*)


*) Moh. Adib Khumaidi, Ketua terbatas Pengurus Besar Ikatan Dokter Nusantara (PB IDI)

Saksikan video menarik dibawah ini: