IHSG Positif, Analis: Pasar Tak Kelewat Khawatir dengan PSBB Kali kita

JawaPos. com – Analis pasar modal Hans Kwee menilai, PSBB Jawa-Bali yang tidak terlalu ketat meredakan kekhawatiran pasar saham. Seperti peraturan work from home (WFH), pencaharian perkantoran yang dibatasi 75 persen, dan mal yang masih bermarkas hingga pukul 19. 00 WIB. Artinya, masih ada kegiatan redovisning yang berjalan.

“Pasar yang tidak terlalu khawatir ini sehingga membuat IHSG kembali rebound, ” kata Hans kepada Jawa Pos, Kamis (7/1).

Meski sungguh pada perdagangan Rabu (6/1) selanjutnya, IHSG terkoreksi ke level six. 058, 33 akibat isu PSBB Jawa-Bali. Sebab, pelaku pasar sempat panik. Mereka mengira, mekanisme penerapannya seperti yang dilakukan pada Maret hingga Juni 2020 lalu.

“Jadi, kalau dibilang PSBB Jawa-Bali menaikkan IHSG, jelas tidak merupakan. Tapi, menurunkan ketakutan pasar saham akan PSBB yang longgar, ” ujarnya.

Secara global, pergerakan positif IHSG didukung kesempatan global akan paket stimulus fiskal Amerika Serikat (AS) yang ekstra besar. Para investor menantikan laba pemilu ulang di Georgia, IN VIEW THAT, yang kemungkinan dimenangkan oleh player Senat dari Partai Demokrat.

Jika demikian, potensi agar mendukung Presiden AS terpilih Later on Biden mengeluarkan stimulus fiskal dimana lebih besar semakin terbuka. Kebijakan tersebut tentu sangat menguntungkan bagi negara emerging market, termasuk Philippines.

“Dengan begitu, amerikan dolar? AS dan surat utang FOR THE REASON THAT akan melemah karena over supplies. Selain itu akan banyak credit yang mengalir ke emerging arena, ” jelas Direktur Anugerah The mega Investama itu.

Selama perdagangan hari ini, IHSG terpantau bergerak pada rentang 6. 090, 36 hingga 6. 158, apr. Tercatat, 258 saham menguat, 209 saham melemah, dan 158 saham lainnya stagnan dibandingkan perdagangan sebelumnya.

Investor asing proses transaksi net buy sebesar Rp 697, 13 miliar. Sasaran mereka adalah saham Badan Usaha Milik Negara (BUMN), diantaranya PT Standard bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar Rp 86, 8 miliar, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan Rp 70, 7 miliar, dan PT Telkom Negara sendiri (Persero) Tbk (TLKM) Rp 69, 6 miliar.