Itu yang Mendapat Pengalaman Mistis masa Mendaki Gunung Arjuno

Tahun lalu, Nadya Noor Fahira mendaki Gunung Arjuno bersama sepuluh temannya. Jalur pendakian yang dipilih adalah Tretes. Semenjak pertama berangkat, hal-hal ganjil mengapit perjalanan mereka.

MASA   melintasi pos pertama, perjalanan mereka terasa biasa saja. Masih bisa haha-hihi. Ngobrol santai sambil menikmati sejuknya hutan Bukit Arjuno. Namun, obrolan mereka terhenti saat mendengar suara gaduh. Bagian di sekitar mereka seperti bergesekan dengan sesuatu yang bergerak. ”Saat itu kami pikir hanya hewan. Kami masih abai dan meneruskan perjalanan” katanya.

Tetapi, suara gemeresik dahan itu kian santer terdengar. Seolah-olah mengikuti ke mana rombongan Nadya itu kabur. Awalnya dia cuek, menganggap barang apa yang dia alami bersama teman-temannya hanya kejadian alam. ”Dahan tersebut terus goyang saat kami jalan. Sampai-sampai kami kaget dan langsung merunduk. Goyangnya dahan tidak bagaikan diterpa angin. Layaknya dahan dengan sengaja digoyangkan, ” katanya.

Suasana malam itu kian mencekam. Sebuah batu tiba-tiba datang tepat di belakang rombongan tersebut. Dicari-cari tidak tampak siapa dengan melayangkan batu tersebut. ”Tiba-tiba, kepala rombongan kami bertanya ke pendaki perempuan. Apa ada yang pantas haid atau tidak. Dari tiga perempuan termasuk saya, tidak ada yang sedang haid, ” nyata mahasiswa Universitas Airlangga itu.

Nadya menyatakan pantang untuk perempuan haid untuk mendaki Bukit Arjuno. Makhluk halus senang mengganggu mereka yang sedang menstruasi. ”Setelah itu, kami kembali berdoa dan melanjutkan perjalanan ke puncak, ” ujar Nadya. Sejenak mereka menghapuskan pengalaman ngeri yang terjadi. Membuat api unggun menjadi penghibur era sudah di puncak.

”Seusai bikin api unggun, saya istirahat. Setelah masuk tenda, samar-samar kok terdengar suara gamelan sungguh, ” ujar mahasiswa program studi manajemen itu. Waswas sudah nyata. Namun, Nadya mencoba tidur & memejamkan mata. Keesokan hari, Nadya bertanya kepada teman sejawatnya. Ternyata dia tak sendirian. Beberapa pada antara rombongan Nadya juga memperhatikan alunan gending yang biasa dimainkan saat acara mantenan.

Pengalaman mistis Nadya dan teman-temannya tidak berhenti di situ. Saat turun, mereka melintas di salah satu mata air dalam tanda pendakian. Salah satu temannya punya niat untuk mengambil sedikit tirta dan membawanya pulang. Mendadak selalu teriakan keras terdengar, sesosok khalayak setinggi pohon dan berwarna suram berdiri di ujung sungai. Seperti mengawasi apa yang dilakukan saudara Nadya.

”Ketakutan serta tidak berani ambil. Kami membatalkan segera turun dan pulang. Tiga kali mendaki ke Arjuno terakhir kali ini saya mengalami kejadian sehoror ini, ” katanya dengan nada heran.

Tersesat hingga Sembilan Jam

Perjalanan  Ferly Safira dan sepupunya, Kevin Haikal, ke Gunung Arjuno pada 4 Juli 2018 meninggalkan memori tak mengenakkan hingga kini. Perjalanan tersebut merupakan yang perdana bagi gadis asal Sidoarjo itu mendaki Gunung Arjuno. Begitu pula dengan sepupunya yang berasal sebab Tasikmalaya tersebut.

Dalam hari H pendakian, seorang petugas pos menegur mereka. Warna pakaian yang mereka kenakan dianggap pamali alias terlarang jika dipakai terangkat ke gunung. ’’Setelan baju saya merah. Sementara sepupu saya pakai jaket merah dan tas abang, ’’ katanya. Karena terlalu ribet untuk ganti baju, mereka beriktikad akan ganti baju saat hendak naik ke puncak. Maksimal sampai di pos 5.

DITEGUR KARENA WARNA: Saat mendaki, Ferly serta sepupunya diminta tak mengenakan objek yang berwarna merah. (Ferly for Jawa Pos)

Tidak terasa hari mulai mata-mata. Mereka mendirikan tenda di gardu 5. Seseorang mendatangi mereka berdua. Lagi-lagi menegur warna pakaian dengan mereka pakai. Tidak lama, tersedia rombongan lain datang. Mereka kendati sepakat untuk berangkat bersama. Total 15 orang naik ke pucuk. Jumlahnya ganjil, menurut mitos kejadian itu tidak boleh dilakukan. Jika dipaksa, ada makhluk halus dengan mengikuti.

Jarak congkong 5 ke puncak seharusnya tak memakan waktu lama. Hanya 4–5 jam. Namun, yang terjadi dalam luar dugaan. Perjalanan terasa sangat lama. Saat sedang istirahat, tiba-tiba ketua rombongan memberikan pengumuman. Itu seperti nyasar. Sepanjang perjalanan tidak kunjung keluar dari hutan dengan lebat.

Lelah berpadu cemas menguasai perasaan Ferly & Kevin. Kaki yang lemas itu dipaksa untuk terus jalan. Kepala per satu anggota rombongan semakin berjarak. Hingga Ferly dan Kevin tiba di puncak lebih dulu. Tepat pukul 07. 00. Penjelajahan dari pos 5 menuju pucuk sangatlah tidak lazim. Apalagi memakan waktu sembilan jam. ’’Setelah prasmanan dan istirahat, pukul 08. 00 kami putuskan untuk segera mendarat, ’’ ujarnya.  

Saksikan gambar menarik berikut ini: