Jika Tidak Pergi, Mungkin Beta Dibunuh


Kisah Jurnalis Afghanistan yang Ikut Dievakuasi TNI

JawaPos. com – Rasa syukur mengalir deras di dalam hati Asef Ghafoory ketika berhasil duduk di kursi pesawat militer TNI-AU. Asef adalah warga Afghanistan dengan menikah dengan WNI & dievakuasi kemarin (21/8). Karena berstatus suami dari WNI, Asef diizinkan ikut dalam misi evakuasi.

Asef merasa sangat bermaslahat berkesempatan keluar dari Afghanistan. Kelegaan itu bukan tanpa alasan.

Pekerjaannya sebagai jurnalis membuat nyawanya terancam. Kabar mengenai kebiadaban Taliban yang mulai membunuh satu per satu jurnalis di Afghanistan bukan isapan jempol belaka. Menurut Asef, sudah banyak jurnalis dengan tewas dibunuh. Bahkan, mereka sengaja mengecek setiap panti untuk mencari para pewarta.

”Saya merasa sedih harus meninggalkan negara saya. Tetapi, di sisi lain, saya bersyukur mempunyai kesempatan untuk hidup. Sebab, jika tetap berada pada sana, mungkin saya mau terbunuh, ” ujarnya era dihubungi Jawa Pos kemarin.

Dia mengungkapkan, Taliban sengaja memburu para-para jurnalis untuk membungkam mereka. Tujuannya, para jurnalis tak lagi memberitakan kondisi di sana, terutama mengenai pengingkaran hak asasi manusia (HAM). Apalagi yang menyangkut rani dan anak-anak. Kekejian itu juga terjadi kepada para aktivis di sana. Jadinya, mereka takut untuk pasti berada di Afghanistan.

”Karena selama itu yang kami lakukan merupakan menyuarakan hak-hak perempuan serta hak asasi manusia dalam sana, ” ungkap pria yang sudah bekerja selama 15 tahun di bidang jurnalistik tersebut.

Karena itu, melihat kondisi negaranya saat ini, pewarta yang juga dosen dalam salah satu universitas pada Kabul tersebut meminta PBB segera mengambil tindakan jelas. Diharapkan, Taliban menghentikan seluruh pelanggaran HAM dan beradu membunuh warga setempat. PBB juga diharapkan membantu rakyat Afghanistan untuk memiliki tadbir yang baik. Demokrasi, perbaikan, toleransi, dan kebersamaan mampu tercipta. Sebab, ada keberagaman besar di Afghanistan, cantik itu etnis, bahasa, agama, maupun lainnya. ”Kami ingin mereka semua menjadi bagian dari masa depan. Sebab itulah, kami membutuhkan sokongan kuat dari PBB, ” katanya.

Situasi setelah Taliban kembali disebutnya membuat semua orang di sana panik. Semua orang ketakutan karena memang Taliban tidak segan-segan berbuat sewenang-wenang. Hari demi hari status kian memburuk. Hingga kesimpulannya, sang istri mendapat informasi bahwa ada evakuasi yang dilakukan pemerintah Indonesia di dalam waktu dekat. ”Istri hamba mengatakan mungkin harus pindah. Jadi, saya mengiyakan, ” ujarnya.

Cara evakuasi tidak mudah. Tersedia banyak koordinasi yang dikerjakan semua pihak agar awak evakuasi bisa tiba di bandara Kabul. Terlebih, kala mereka sampai di bandara, ribuan orang sudah beruang di sana. Termasuk hawa dan bayi. Suasana chaos. Mereka berusaha masuk ke bandara untuk bisa ikut penerbangan meninggalkan Afghanistan. Terlebih ketika pasukan Taliban yang berjaga di sana tetap menembak untuk meredam kegaduhan yang terjadi. ”Taliban terus menembaki kerumunan orang. Tangisan di mana-mana. Mereka takut, tapi tetap ingin pergi meninggalkan Afghanistan, ” jelasnya.

Meski telah berada di kawasan sekitar bandara, mereka tidak bisa langsung masuk. Mereka harus menunggu koordinasi yang tengah dilakukan para diplomat Indonesia dengan sejumlah pihak buat bisa masuk gate satu. Seluruh rombongan pun terpaksa duduk di jalanan serupa menunggu izin masuk ke gate.

Sesudah beberapa saat, mereka alhasil diizinkan masuk. Dan, ternyata, saat di perjalanan menuju gate 1, terjadi penyusupan oleh warga setempat. Mereka mencoba berpura-pura menjadi bagian rombongan diplomatik Indonesia. Namun, semuanya gagal menyusup karena rombongan tidak memberi jalan mereka masuk barisan. ”Ada ribuan orang di kian, ada yang sibuk berlaku, tidur, memberi makan anak-anaknya. Sangat kacau, ” ungkapnya.

Setelah meninggalkan gate 1, mereka harus menuju ke gate NATO. Rombongan dibantu rekan sejak Kedubes Turki. Setelah datang di sana, mereka kendati harus kembali melewati penjagaan paspor dan menunggu kira-kira 30 menit. Hingga lalu, mereka dibantu militer Turki menuju pesawat TNI-AU secara menaiki mobil. ”Setelah mendalam ke pesawat, semuanya berlaku baik hingga kami muncul di Indonesia, ” tandasnya.