Kaum Juara Dunia Junior dari Nusantara Bisa Meledak di Olimpiade

JawaPos. com – Cabang olahraga angkat besi Indonesia memiliki target besar di dalam Olimpiade Paris 2024. Hal tersebut tidak lepas dari banyaknya lifter muda tanah air yang beruang di bawah usia 20 tahun. Mulai Rizki Juniansyah, M. Faathir, hingga Windy Cantika Aisah.

Rizki, misalnya. Belum periode ini lifter asal Banten itu sukses menyapu bersih tiga medali emas di Kejuaraan Dunia Virtual 2020. Dia mencatatkan snatch 145 kg, clean and jerk 180 kg, dengan total angkatan 325 kg.

Rizki juga melampaui rekor dunia remaja kelas 73 kg. Yakni, dengan mempertajam rekor snatch sejak 139 kg ke 145 kg, clean and jerk 171 kg ke 180 kg, dan total bala 307 kg ke 325 kg.

Baca Juga: Ajukan Diri Mundur, Susy Susanti Akan Fokus Usaha dan Rumah Tangga

Namun, saat ini, tentara angkat besi Indonesia dibuat bingung. Sebab, International Olympic Committee (IOC) bakal memangkas kuota event ambil besi di Olimpiade 2024.

Keputusan tersebut diambil mahkamah eksekutif IOC pada rapat agenda acara dan kuota atlet. Rapat tersebut berfokus pada kesetaraan seks dan remaja untuk Olimpiade 2024.

Pelatih angkat tukul Indonesia Dirja Wihardja menyatakan, pihaknya masih akan menunggu kepastian mana saja 10 kelas yang dipangkas. Ya, kepastian kelas apa saja yang ditiadakan baru diumumkan dalam kuartal keempat 2021. Setelah itu, barulah strategi untuk adaptasi mampu dilakukan.

Adanya pencoretan kelas tersebut tidak lepas daripada perkembangan masalah doping di angkat besi yang mencuat. Selain doping, secara organisasi, Federasi Angkat Besi International (IWF) terus ditempa berita miring. Mulai skandal korupsi had buruknya tata kelola.

Atas dasar itu, Dirja meminta Olimpiade Tokyo nanti tidak tersedia kasus. ”Jadi bisa menjadi target pertimbangan untuk perubahan kelas, ” harapnya kepada Jawa Pos kemarin.

Di sisi lain, IWF merespons keputusan IOC sebagai hal positif. Dari situs resminya, IWF berkeyakinan bahwa angkat besi akan tetap dipertandingkan pada 2024.

”Angkat besi harus membalas mahal untuk tata kelola yang kurang baik atas tindakan negara-negara yang mencoba mengambil jalan pintas demi dapat sukses di Olimpiade London 2012 dan Beijing 2008, ” demikian bunyi pernyataan IWF.