Kemenag: Panduan Ibadah Ramadan Tak Berlaku di Zona Oranye dan Merah

JawaPos. com – Kementerian Keyakinan (Kemenag) telah menerbitkan Tulisan Edaran (SE) tentang Panduan Ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 Hijriah atau 2021. SE tersebut jarang lain mengatur tentang diizinkannya kegiatan buka puasa bergabung, salat berjemaah (lima periode, tarawih, dan witir), tadarus Alquran, serta iktikaf, dengan jumlah kehadiran maksimal 50 persen dari kapasitas masjid atau musala.

Surat edaran juga mengatur bahwa kegiatan harus menerapkan protokol kesehatan secara selektif, menjaga jarak antar himpunan minimal 1 meter, & membawa sajadah atau mukena masing-masing. Namun, ketentuan pada surat edaran ini tak berlaku untuk daerah dengan masuk zona merah & oranye.

“Menteri Agama sudah menerbitkan edaran panduan ibadah Ramadan & Idul Fitri 1442 H. Namun, edaran itu tak berlaku untuk daerah yang masuk zona merah dan oranye berdasarkan ketetapan Satgas Covid setempat, ” jelas Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin di Jakarta, Jumat (9/4).

Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan Covid-19 telah menetapkan beberapa kriteria wilayah bersandarkan risiko penyebaran virus. Tersedia empat kriteria wilayah, yaitu zona hijau (tidak terdampak), zona kuning (risiko rendah), zona oranye (risiko sedang), dan zona merah (risiko tinggi).

“Edaran panduan ibadah Ramadan dan Idul Fitri bisa diberlakukan pada wilayah yang mengakar zona hijau dan kuning, ” jelas Kamaruddin.

Baca Juga: Sudah Disetujui 30 Negara, Sinovac Produksi 2 Miliar Vaksin Covid-19

Dia mengatakan, tulisan edaran ini bertujuan buat memberikan panduan beribadah dengan sejalan dengan protokol kesehatan, sekaligus untuk mencegah, mengurangi penyebaran dan melindungi kelompok dari risiko Covid 19.

Secara rinci, berikut ketentuan SE Menag terkait panduan ibadah Ramadan dan Idul Fitri 1442 H:

1. Kaum muslimin, kecuali bagi yang kecil atau atas alasan syari lainnya yang dapat dibenarkan, wajib menjalankan ibadah puasa Ramadan sesuai hukum syariah dan tata cara ibadah yang ditentukan agama;

2. Sahur dan buka puasa dianjurkan dilakukan di rumah masing-masing bersama keluarga pokok;

3. Dalam hal kesibukan buka puasa bersama pasti dilaksanakan, harus mematuhi pembatasan jumlah kehadiran paling penuh 50 persen dari daya ruangan dan menghindari gerombolan;

4. Pengurus masjid ataupun musala dapat menyelenggarakan kegiatan ibadah antara lain:  

a. Salat fardu lima waktu, salat tarawih serta witir, tadarus Al-Quran, & iktikaf dengan pembatasan jumlah kehadiran paling banyak 50% dari kapasitas masjid atau musala dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat, menjaga jarak aman 1 meter antarjemaah, dan setiap jemaah membawa sajadah serta mukena masing-masing;

b. Pengajian/Ceramah/Taushiyah/Kultum Bulan berkat dan Kuliah Subuh memutar lama dengan durasi masa 15 (lima belas) menit;

c. Peringatan Nuzulul Quran di masjid/musala dilaksanakan secara pembatasan jumlah audiens menyesatkan banyak 50% dari daya ruangan dengan penerapan protokol kesehatan secara ketat;

5. Pengurus dan pengelola masjid/musala sebagaimana angka 4 (empat) wajib menujuk petugas dengan memastikan penerapan protokol kesehatan dan mengumumkan kepada seluruh jemaah, seperti melakukan disenfektan secara teratur, menyediakan perkakas cuci tangan di pintu masuk masjid/mushala, menggunakan masker, menjaga jarak aman, dan setiap jamaah membawa sajadah/mukena masing-masing.

6. Kegiatan ibadah Ramadan di masjid/musala, seolah-olah salat tarawih dan witir, tadarus Al-Quran, iktikaf dan Peringatan Nuzulul Quran tak boleh dilaksanakan di wilayah yang termasuk kategori kawasan merah (risiko tinggi) serta zona oranye (risiko sedang) penyebaran Covid-19 berdasarkan penetapan pemerintah daerah setempat.

7. Peringatan Nuzulul Quran yang diadakan di dalam maupun di luar gedung, dalam daerah yang masuk ketegori risiko rendah (zona kuning) dan aman dari penyebaran Covid-19 (zona hijau), tetap memperhatikan protokol kesehatan secara ketat dan jumlah audiens paling banyak 50% sejak kapasitas tempat/lapangan.

8. Vaksinasi Covid-19 dapat dilakukan dalam bulan Ramadan berpedoman pada fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 13 Tahun 2021 tentang Hukum Vaksinasi Covid-19 Saat Berpuasa, serta hasil ketetapan fatwa ormas Islam lainnya.  

9. Kegiatan pengumpulan dan penyaluran zakat, infak, dan shadaqah (ZIS) serta zakat pembawaan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) dan Institusi Amil Zakat (LAZ) dikerjakan dengan memperhatikan protokol kesehatan dan menghindari kerumunan massa.

10. Dalam penyelenggaraan ibadah dan dakwah di bulan Ramadan, segenap umat Islam dan para mubaligh/penceramah petunjuk agar menjaga ukhuwwah islamiyah, ukhuwwah wathaniyah, dan ukhuwwah bashariyah serta tidak memperhadapkan masalah khilafiyah yang sanggup mengganggu persatuan umat.

11. Para mubaligh/penceramah agama diharapkan berperan memperkuat nilai-nilai keimanan, ketakwaan, akhlaqul karimah, faedah umat, dan nilai-nilai kebangsaan dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui bahasa dakwah yang tepat dan berbudi sesuai tuntunan Al-Quran serta As-Sunnah.

12. Salat Idul Fitri 1 Syawal 1442 H/2021 M dapat dijalankan di masjid atau pada lapangan terbuka dengan menggubris protokol kesehatan secara ketat, kecuali jika perkembangan Covid-19 semakin negatif (mengalami peningkatan) berdasarkan pengumuman Gugus Suruhan Percepatan Penanganan Covid-19 untuk seluruh wilayah negeri ataupun pemerintah daerah di daerahnya masing-masing.