Lima Rupa dalam Suara 3×4 m

JawaPos. com – Padepokan Seni Ciling Kussudiardja (PSBK) menaja pameran bertajuk Suara 3×4 m secara daring di laman mereka. Pameran ini menghadirkan lima karya yang lahir sejak program residensi Seniman Pascaterampil. Kalender tersebut diikuti oleh lima seniman dari beragam latar belakang kesenian dan daerah. Mereka adalah Chaerus Sabry  dari Bulukumba dengan latar belakang seni teater, Egi Adrice dari Indramayu yang tekun dalam seni musik,   dan tiga perupa yaitu Chairol Imam (Solo), Teguh Hadiyanto  (Jakarta), serta M. Y. A. Rozzaq  (Yogyakarta).

’’Melalui pameran ini para seniman menarasikan berbagai peristiwa sezaman pandemi Covid-19 yang berdaya refleksi dan meminta perhatian, salah satunya terkait kesehatan mental, ’’ nyata Istifadah Nur Rahma dalam pesan kuratorial pameran ini. Menurutnya, pandemi Covid-19 memantik cara dan tradisi baru dalam keseharian agar tak terserang virus. Wabah melahirkan tegangan antara kesadaran dan keterpaksaan dengan tampak dalam realitas anyar berasal dari rupa-rupa respons terhadap situasi pandemi.

Para artis dalam pameran ini memulai kerja artistiknya dengan usaha kembali memperhatikan wilayah internal yang semasa pandemi kadang serasa berada di ruang-ruang isolasi. Dari sana lantas pegari pijakan karya yang meneroka ketaksaan di sekitar optimisme dan pesimisme, maya atau nyata, bebas & terbatas, hingga publik atau pribadi. Penyusunan konsep artistik dari proses semacam itu melahirkan karya yang terhubung dengan kehidupan saat ini.

Dalam catatan kuratorialnya, Istifadah menyebut karya Chaerus Sabry berjudul Tidak Ke Mana-Mana dan karya Ozaques bertajuk Baid-Bain (yang jauh dan yang nyata) sama-sama menghadirkan diri jadi subjek sekaligus objek. Karya Egi berjudul Tanpa Pemisah dan Teguh bertajuk Pie Kabare? Iseh Penak Di Rumah Ora? juga mempunyai jalinan pendirian yang berdekatan. Egi menawarkan intonasi optimistis pada karyanya sementara Setia mengingatkan di rumah saja di dalam penjarakan sosial saat ini tidak sama namun memiliki irisan secara Hikikomori di Jepang. Lalu, Chairol Imam menghadirkan Pojok Angka & Aksara tentang persoalan kedirian di masa pandemi yang kadang berlebihan atau sebaliknya.

Karya Egi nyata seni video. Menyanyikan lagu desain sendiri sembari telanjang dada menjadi bagian dari karya sepanjang sekitar 18 menit itu. Karya ini dengan terang menampilkan bagaimana kejadian tak menentu selama pandemi tak bisa disikapi dengan menganggap epidemi melulu menghasilkan ketidakberdayaan berujung gerutu, tuntutan hingga menyalahkan. Pandemi beserta keterbatasannya harus dijawab dengan menyelenggarakan sesuatu.

Chairol memakai jalan seni rupa pertunjukan yang direkam menjadi video berdurasi hampir dua jam. Membubuhi tubuhnya secara huruf dan angka menggunakan spidol dan cat menjadi cara Irol menghadirkan bagaimana penilaian atas muncul sendiri secara berlebihan atau sebaliknya banyak muncul pada masa pandemi. Persoalan nilai dan harga di kedirian yang seperti itu kemudian menyebabkan menipisnya rasa kemanusiaan.

Pameran hingga 10 Agustus 2020 tersebut didesain menjadi pertunjukan daring yang asyik untuk disimak.   Dalam presentasinya, susunan riwayat, potret ruangan, dan wicara artis Suara 3×4 m dihadirkan pada bentuk video. Pengunjung pameran dapat menikmati tiap karya dengan detil. Bentuk karya dari seni gambar hingga menggunakan realitas tertambah yang interaktif dengan pengunjung dalam Suara 3×4 m melengkapi beragam bentuk upaya alih wahana pameran luring ke daring belakangan ini. (tir)