Menyandarkan Risiko Kehilangan Kucing Kesayangan sebab FPV

Salah satu penyakit yang kerap menyerang kucing disebabkan oleh Feline panleukopenia virus (FPV) atau feline parvovirus.

VIRUS   itu sangat menular dan mematikan. Kucing berusia di atas satu tarikh bisa terinfeksi virus itu. Tetapi, penyakit tersebut bisa dicegah secara melakukan vaksinasi rutin dan mengelola kebersihan kucing.

Drh Nadhor Nainggolan menjelaskan FPV bertambah lanjut. Menurut dia, virus itu ditularkan melalui jalur fekal-oral. Pada mana virus masuk ke sombong melalui benda, makanan, atau minuman yang sudah terkontaminasi tinja kucing penderita FPV. Virus juga berpotensi masuk saat kucing melakukan tindakan bersih diri atau self grooming.

Target utama FPV adalah saluran usus, sumsum tulang, dan sel limfatik kucing.

Ada sejumlah gejala era kucing terserang virus tersebut. Misalnya, lemas, diare berdarah, dan mual/muntah. Dalam beberapa kasus, kucing bisa mati dalam beberapa jam sesudah terinfeksi virus itu tanpa tanda-tanda sebelumnya. Kasus seperti itu sering terjadi pada anakan kucing.

Jika sudah menunjukkan gejala-gejala tersebut, ada beberapa perawatan dengan disarankan berdasar tingkat keparahan. Pada kasus yang parah, infus serta antibiotik bisa diberikan segera. Obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) bisa dikasih untuk meringankan gejala demam.

Sementara itu, gejala mual/muntah diatasi dengan injeksi antiemetik. Mas makanan melalui slang juga mampu dilakukan untuk mencukupi kebutuhan nutrisi. Perjalanan penyakit biasanya memakan zaman 5 sampai 7 hari sampai imun tubuh merespons. Sebagian kucing mati sebelum itu dan beberapa lainnya sembuh tanpa gejala sisa lebih lanjut.

”Yang penting segera ke dokter hewan untuk penanganannya, ” ujar pemilik ELiM Veterinary Care itu. Patuh dia, virus tersebut tergolong mematikan, khususnya bagi kucing yang berusia tua. Sebab, tidak ada obat yang mampu membunuh virus. Dengan demikian, perawatan intensif sangat istimewa untuk mendukung kesehatan kucing. Tetapi, virus itu bisa dicegah dengan vaksinasi.

Nadhor menyarankan setidaknya tiga dosis vaksin FPV pada anak kucing. Yakni, usia 8, 12, dan 16–20 minggu. Vaksinasi ulang bisa dilakukan surat saja dari usia 26 mematok 52 minggu. Pengecualian untuk kucing yang tinggal di lingkungan yang berisiko tinggi. Misalnya, tempat penghimpunan kucing/shelter, kucing jalanan/tanpa pemilik, dan anak kucing. Mereka harus divaksinasi setidaknya sejak usia 6 minggu.

Tindakan pencegahan yang lain adalah menjaga lingkungan sekitar kucing tetap bersih dan steril. Sebab penularan virus melalui banyak jalan tidak langsung. Misalnya, melalui sepatu, keranjang kucing, dan lain-lain. ”Akan lebih baik jika tempatnya didesinfeksi rutin, ” imbuh alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga tersebut.

Salah satu pawrent Yeremia Halim mengaku bahwa kucing-kucingnya mendapat vaksinasi FPV rutin. Sebab, dia memahami bahaya penyakit membekukan itu. Selain vaksin, ada kira-kira hal yang rutin dia kerjakan demi kucing-kucingnya terhindar dari virus.

Contohnya, pemeriksaan kesehatan rutin, menjaga sirkulasi udara dalam ruangan kucing tetap bagus, & sterilisasi ruangan kucing dengan larutan khusus.

”Tentunya harus aman dan food grade buat kucing, ” kata pemilik Jerehui Cattery itu. Dia juga menyerahkan air purifier di ruangan kucing untuk menjaga udara bebas daripada virus.

Selain vaksin FPV, Yeremia memberikan vaksin feline rhinotracheitis, calici, dan chlamydia psittaci pada kucing-kucingnya. Dia pun meminta akan lebih banyak vaksin kucing yang masuk ke Indonesia laksana FIV dan FeLV yang sedang terjangkau hanya di Eropa.

Saksikan video menarik berikut ini: