Minus Ekspresi Meski Jadi Juara beserta Kalahkan No 1, 2, dan 3 Dunia

JawaPos. com − Tak ada selebrasi yang dilakukan Daniil Medvedev saat servis kerasnya tidak bisa dikembalikan Dominic Thiem. Padahal, itu poin kemenangannya pada golongan puncak ATP Finals 2020 yang berlangsung di O2 Arena kemarin dini hari.

Poin tersebut memastikan Medvedev menumbangkan Dominic Thiem 4-6, 7-6 (2), 6-4 dalam tempo 2 jam 42 menit.

Petenis 24 tahun itu menunjukkan ekspresi tebal telinga. Setelah servisnya gagal dikembalikan, dia langsung berjalan mendekat ke net, tanpa ekspresi apa pun. Dia lantas menyalami Thiem. Tidak ada teriakan histeris ataupun gerakan mengucup wajah seperti petenis-petenis lain masa baru saja meraih gelar ahli.

’’Di tenis, aku pikir saya mungkin yang baru (tidak berselebrasi). Kalau di menepuk bola, saya telah melihat kurang pemain yang tidak merayakan (kemenangan), ’’ papar Medvedev sebagaimana dikutip BBC.

’’Saya membatalkan (tak berselebrasi) saat AS Terbuka ketika saya mengalami kesulitan secara minimnya penonton, ’’ ujarnya.

Ya, Medvedev memilih tanpa ekspresi. Padahal, raihan tersebut menghasilkan dia menjadi petenis pertama Rusia yang sanggup meraih gelar ATP Finals setelah sebelas tahun. Atau sejak 2009. Lebih tepatnya sejak Nikolay Davidenko melakukan hal sewarna pada edisi tersebut.

London menjadi tuan rumah ATP Finals mulai edisi 2009. Tarikh ini menjadi pergelaran terakhir di kota itu. Tahun depan, kompetisi berpindah venue ke Turin, Italia. Alhasil, kemenangan Medvedev tersebut menghasilkan dua petenis Rusia menjadi pendekar pertama dan terakhir di ATP Finals edisi London.

’’Sebelum kompetisi ini dimulai, awak sudah membayangkan bakal sangat menjadikan jika dua petenis Rusia bisa membuka dan menutup gelar jempolan di London, ’’ ucap Medvedev dilansir situs resmi ATP.

Perjalanan Medvedev merengkuh menggelar tersebut tidak mudah. Sebab, dengan menumbangkan Thiem di final, tempat telah mengalahkan petenis ranking satu, 2, dan 3 dunia di turnamen ini.

Sebelum menumbangkan Thiem yang kini menduduki ranking ketiga dunia, dia melibas ranking satu dunia Novak Djokovic di fase grup. Ranking ke-2 dunia Rafael Nadal juga dia kirim pulang di babak semifinal.

Fakta tersebut memproduksi Medvedev tercatat sebagai satu sejak empat petenis dalam sejarah dengan sanggup memenangi sebuah turnamen dengan mengalahkan tiga petenis ranking tiga besar dunia di satu ajang.

Tiga petenis lainnya yang bisa melakukan itu adalah David Nalbandian, Novak Djokovic, dan Boris Becker (lihat grafis). ’’Luar biasa. Ini menunjukkan bagaimana kekuatanku sebenarnya, ’’ ucap Medvedev dilansir ESPN.

Gelar itu membuat Medvedev mencatatkan rekor sempurna 10-0 pada November ini. Pra datang ke ATP Finals, tempat juga menjadi kampiun Paris Masters. Kekuatan permainan Medvedev ada dalam arah servisnya yang tak terbaca. Dia juga pandai mengarahkan pengembalian ke sudut-sudut sulit lawan. Petenis setinggi 198 cm itu serupa punya power kuat di pada setiap return.

Kemarin Medvedev mulai menemukan momen kemenangan sejak tiebreak babak kedua. Saat itu dia membuktikan lebih sering mendekat ke net untuk memotong pengembalian dari Thiem. Hasilnya efektif. Dia berhasil mengambil tujuh poin berturut-turut. ’’Bagiku taktik yang dia lakukan itu sangat berani dan mengejutkan, ’’ cakap Thiem dilansir Associated Press.

Hasil tersebut membuat Thiem gagal menjadi petenis Austria pertama yang piawai meraih gelar ATP Finals. Keinginannya untuk mengawinkan gelar ajang itu dengan trofi grand slam Amerika Serikat (AS) Terbuka yang dia rengkuh September lalu juga bubar terwujud. ’’Untuk olahraga tenis, hasil turnamen ini sangat menarik. Hendak lebih banyak hal tak terkira terjadi di olahraga ini kemudian, ’’ ucap Thiem.