Setelah Raisa, ITS-RSUA Hadirkan Robot Violeta untuk Lawan Covid-19

JawaPos. com – Bukan hanya Raisa, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan RSUA kini juga mengembangkan robot Violeta. Robot tersebut berfungsi untuk mensterilisasi ruang isolasi khusus di RSUA dengan memanfaatkan sinar ultraviolet (UV). Dengan begitu, risiko tenaga kesehatan (nakes) terpapar Covid-19 semakin berkurang.

Tim robot ITS pun mendemokan robot Violeta kali pertama di Gedung Robotika ITS kemarin (24/4). Didampingi Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja sama, dan Kealumnian ITS Bambang Pramujati, kemampuan bergerak robot tersebut diuji coba dengan pengontrol melalui remote oleh operator.

Achmad Zidan Akbar, programmer tim robot Violeta, mengatakan bahwa robot tersebut memang dibuat untuk mensterilisasi ruang isolasi.

Panjang gelombang yang dikeluarkan sinar UV itu berada dalam 200−300 nanometer.

Panjang gelombang tersebut mampu membunuh serta menghambat pertumbuhan mikrobakteri. Namun, sangat berbahaya jika terkena kulit manusia. Yakni, dapat memicu kanker kulit. ”Jadi, dibuat robot untuk berada di dalam ruangan, ” katanya.

Automatic robot Violeta. (Robertus Risky/Jawa Pos)

Achmad menjelaskan bahwa robot tersebut dapat mensterilisasi setiap sudut ruangan selama terdapat jaringan wifi. Sinar UV yang dipakai dalam jarak 1 meter sangat efektif membunuh mikrobakteri hingga 99 persen. Jika jarak 2 meter, efektivitasnya menurun 25 persen. ”Jadi, penggunaannya, robot harus didekatkan dengan ruangan yang akan disterilisasi, ” ujarnya.

Komponen-komponen yg digunakan dalam robot Violeta, lanjut dia, hampir sama dengan robot Raisa. Yakni, menggunakan penggerak dari robot sepak bola beroda Iris. Selain itu, ada inverter karena sinar UV menggunakan tegangan AIR CONDITIONERS. Jadi, daya baterai diubah dulu agar bisa menghidupkan lampu UV. ”Penggeraknya menggunakan robot Iris. Komunikasinya menggunakan komponen dari robot Barunastra dan desainnya diambil bagian-bagian dari robot Ichiro dan lain-lain, ” jelasnya.

Achmad menambahkan, Violeta memiliki keunggulan tidak meninggalkan residu. Jadi, tidak menimbulkan jamur pada suatu benda. Berbeda halnya dengan cairan desinfektan lain yg dapat meninggalkan residu. UV tidak meninggalkan apa pun karena menggunakan sumber listrik yang tidak perlu diisi ulang. Selain itu, automatic robot tersebut memiliki baterai cukup besar hingga 30. 000 mAh. ”Jika lampu menyala terus, bisa sampai enam jam, ” ujarnya.

Pembuatan robot Violeta tersebut membutuhkan waktu 7−9 hari. Termasuk proses elekteronik, program, dan mekanik.

Sementara itu, Bambang mengatakan bahwa Violeta dan Raisa adalah dua robot yang berbeda. Raisa adalah robot yang membantu melayani pasien Covid-19. Violeta adalah robot untuk sterilisasi. Kebetulan bernard peneliti ITS pernah melakukan riset tentang sinar UV yang dapat membunuh dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Dari situlah, akhirnya dibuat salahsatu robot. ”Jadi, bisa digerakkan dari jauh. Manusia tetap aman dari efek buruk sinar UV, ” katanya.

Bambang menuturkan, lampu UV dengan panjang gelombang 200−300 nanometer tidak aman dalam manusia. Jadi, sinar UV itu digunakan di ruangan kosong yang akan disterilisasi. Bahkan, robot Violeta tidak hanya bisa dimanfaatkan buat rumah sakit, tetapi juga untuk ruangan lain. Misalnya, gerbong kereta api dan lain-lain. Sepanjang robot tersebut dijalankan ke ruangan-ruangan yang ingin disterilisasi. ”Hanya butuh 10−15 menit untuk proses membunuh mikroorganisme, ” ujarnya.

Uji coba pertama akan diaplikasikan di RSUA. Sebab, ITS-RSUA memiliki kerja sama kolaborasi riset dalam penanganan Covid-19. Saat ini, ITS tidak hanya memikirkan untuk sterilisasi ruangan, tetapi juga sterilisasi alat pelindung diri (APD). ”Sekarang teman-teman sedang mengerjakan sterilisasi APD. Kebetulan kami punya iChamber, tinggal dipasangi lampu saja. Jadi, APD bisa disteriliisasi, seperti masker N95 dan hazmat, ” kata dia.

Saksikan video menarik berikut ini: