Superior PS Store Putra Siregar Akui Kini Berstatus Tahanan Kota

JawaPos. com – YouTuber Putra Siregar membenarkan bahwa dirinya kini berstatus benduan kota usai berkas perkaranya dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Timur pada 23 Juli 2020 terpaut kasus handphone ilegal PS Store. Bos PS Store itu tidak ditahan karena selama ini kooperatif dan diyakini tidak akan menghilangkan barang bukti.

“Saya kan kooperatif dan nggak ada alasan yang kuat untuk menahan saya, ” kata Putra Siregar saat ditemui di bilangan Condet, Jakarta Timur.

Dengan statusnya tersebut, Putra Siregar diharuskan melakukan wajib lapor secara rutin. Putra Siregar pun berjanji mau mematuhinya. Apalagi masalah ini mendapat sorotan publik dan sempat siap viral di media sosial.

Putra Siregar berjanji bakal mengikuti proses hukum yang legal sebagai warga negara yang patuh hukum. “Saya taat hukum, beta akan hadapi. Tapi tolong tanpa bunuh karakter saya, ” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Putra Siregar menjelaskan kasus yang membelitnya. Permasalahan ini terjadi di dalam 2017 silam saat dia perdana hijrah dari Batam ke Jakarta.

“2017 aku pertama kali menginjakkan kaki ke Jakarta. Toko saya waktu itu masih 2 X 3 meter. Tersedia uang 20 juta belanja, 100 juta belanja. Kebetulan banyak yang jualan HP (ke saya) sebab dari dulu semua saya rangkul, ” kata Putra Siregar.

Tiba-tiba salah seorang dalam jaringan bisnisnya menawari sejumlah unit handphone untuk dijual dalam bentuk partai. Barang-barang itu katanya bersetuju dijual dengan harga murah sebab butuh uang. Putra Siregar biar tertarik. Dia meminta barang-barang tersebut dibawa ke toko miliknya dengan berlokasi di daerah Condet.

“Itu malam-malam ditawarin, teristimewa BU katanya. Saya waktu itu masih di Batam. Saya bilang ya sudah antar aja ke toko. Di toko ada belahan saya namanya Lahatta sama Leris. Waktu itu malam-malam, tiba-tiba yang antar barang sudah bersama harga cukai, ” ungkap Putra Siregar.

Ternyata barang-barang handphone yang mau dijual temannya tidak membayar bea cukai atau bisa dibilang ilegal. Putra mengaku tidak mengetahui kala barang-barang itu problematis dengan urusan kepabeanan. Dua ahli Putra Siregar pun dibawa oleh petugas. Sementara Putra Siregar dipanggil karena merupakan pemesan.

Atas kejadian itu, Putra merasa dirinya sudah dijebak. Namun tak mau berspekulasi liar, dia kendati akan mengikuti proses hukum dengan berlaku.

Untuk urusan kepabeanan ini, Putra Siregar mengiakan sudah menyerahkan dana sekitar Rp 500 juta kepada pihak dana cukai apabila tindakannya itu sudah merugikan negara. Selain itu, tempat juga menyerahkan aset dan kunci rekening untuk ditelurusi lebih sendat. Hal itu karena Putra Siregar sempat dianggap terlibat dalam kasus TPPU atau Tindak Pidana Pembilasan Uang.