Tahu Kisruh Penerimaan PPDB Online di DKI Berdasar Usia Tertua

JawaPos. com – Keluhan orang tua murid pada sistem seleksi Pendaftaran Pengikut Didik Baru (PPDB) Online 2020 berdasarkan usia tertua menjadi sorotan publik. Pasalnya, dalam sistem itu banyak peserta didik yang usianya belum memenuhi syarat tidak bisa lolos untuk masuk ke madrasah negeri favorit.

JawaPos. com membuktikan untuk mengurai mengapa PPDB online di ibu kota menjadi sorotan publik. Padahal, peraturan tentang piawai tertua diikuti oleh seluruh daerah di Indonesia. Hal ini berdasarkan Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan serta Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 44 Tarikh 2019 tentang Penerimaan Peserta Asuh Baru.

Sumber JawaPos. com dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta yang tidak ingin disebutkan namanya mengurai permasalahan PPDB online dengan saat ini sedang ramai diperbincangkan publik. Menurutnya, kasus itu berasal karena kekhawatiran orang tua pengikut terhadap anaknya yang diprediksi tidak bisa masuk sekolah negeri kesayangan.

“Jadi memang ada orang tua yang anaknya adalah peserta didik yang berprestasi ingin masuk SMAN 8. Tapi usianya belum mencukupi atau 14 tahun 7 bulan, dia takut anaknya tidak lolos. Jadinya ramai sekarang soal penerimaan peserta didik segar berdasarkan usia tertua, ” membuka dia, Selasa (23/6).

Menurutnya saat ini baru tersedia tiga jalur yang dibuka yakni jalur Zonasi dan Afirmasi dengan diprioritaskan memang dari usia tertua ke termuda, urutan pilihan sekolah serta waktu mendaftar. Sedangkan Salur Prestasi Akademik yang diutamakan ialah perkalian nilai rata-rata rapor, urutan sekolah, usia tertua ke bungsu dan waktu mendaftar.

“Untuk sistem zonasi belum dibuka, jadi orang tua murid tersebut belum mendaftar di zonasi, ” singkatnya. Karena kekhawatiran itu, oleh karena itu muncul berita soal penerimaan peserta didik baru berdasarkan usia tertua.

Menanggapi soal sorotan tentang penerimaan peserta didik hangat berdasarkan usia tertua, Sekretaris Biro Pendidikan DKI Jakarta Susi Nurhati menjelaskan bahwa memang karena kekhawatiran orang tua peserta didik bimbang anaknya tidak bisa masuk madrasah negeri favorit.

“Jadi memang ada kekhawatiran dari para-para orang tua peserta didik kalau anaknya takut tidak bisa menghunjam ke sekolah negeri, ” ungkap Susi kepada JawaPos. com.

Menurutnya, bukan hanya SMAN 8 dengan menjadi sekolah favorit di Jakarta yang banyak peserta didik tak lolos. Melainkan ada beberapa sekolah lainnya seperti SMAN 34, SMAN 70, SMAN 68 dan masih banyak sekolah negeri lainnya.

“Tapi disatu sisi memang baik untuk pemerataan pendidikan. Karena yang kurang bisa mendapatkan pengajian lebih jika masuk sekolah jati yang bagus, ” ungkap Susi.

Susi mengambil perumpamaan ada peserta didik yang jadi masuk sekolah negeri favorit. Pengikut didik itu merupakan warga sejak kepulauan seribu. “Jadi pas ditanya ke peserta didik itu kok mendaftar di sekolah negeri favorit karena ingin mendapatkan ijazah. Oleh sebab itu memang ini untuk pemerataan pelajaran, ” pungkas Susi.

Saksikan video menarik beserta ini: