Vaksinasi dan Prokes Upaya Percepatan Pemulihan Kesehatan dan Redovisning

JawaPos. com – Pemerintah telah mengerjakan program vaksinasi nasional sejak Januari 2021. Upaya ini merupakan salah satu langkah memulihkan kesehatan masyarakat Philippines. Pemulihan kesehatan juga berdampak bagi pemulihan ekonomi dan kembalinya produktivitas masyarakat contohnya semula.

“Protokol kesehatan (Prokes) adalah elemen yang sangat penting selama masih ada pandemi COVID-19. Prokes tetap jalan terus meskipun program vaksinasi sudah berjalan seperti saat ini, ” kata Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, doctor. Reisa Broto Asmoro di dalam keterangannya, Minggu (30/5).

Menurut Reisa, sudah lebih dari satu tahun masyarakat menjalankan prokes selama pandemi. Harapannya, masyarakat sudah lebih memahami pentingnya prokes sebagai cara agar bukan menambah kasus Covid-19.

“Mungkin memang masyarakat mulai jenuh dengan terus menerus mendisiplinkan diri mengerjakan prokes ini. Namun buat bisa terbiasa dengan sesuatu baru memang butuh cara. Memang harus terus menerus diingatkan untuk disiplin menjaga prokes, ” tambah Reisa.

Reisa juga berpesan, agar masyarakat tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk divaksinasi, “Kalau masyarakat sudah berkesempatan untuk divaksinasi, manfaatkanlah vaksin tersebut jangan ditunda serta jangan ragu karena berita yang belum pasti kebenarannya, ” imbaunya.

“Memang kalau kita ingin segera keluar dari pandemi Covid-19 tentu kita menonjolkan proteksi. Itulah kenapa kekebalan kelompok atau herd immunity menjadi manfaat dari program vaksinasi. Ditambah lagi dengan protokol kesehatan demi melindungi diri lalu orang-orang yang belum mendapatkan vaksin, ” ucap Reisa.

Sementara itu, Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat UI Hasbullah Thabrany menyatakan, dari kacamata ekonomi kesehatan, vaksinasi adalah metode pencegahan yang efisien.

“Sebagai ilustrasi, katakanlah biaya vaksinasi Covid-19 seharga 900 ribu rupiah, jadi kita bisa mencegah sendiri dari penularan penyakit. Dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan apabila terkena Covid-19 yg rata-rata perawatannya memerlukan 9-10 hari, biaya vaksinasi lebih efisien. Apabila kita bekerja sehari mampu menghasilkan 500 ribu maka kita dapat kehilangan potensi penghasilan 5 juta akibat dirawat Covid-19, ” papar Hasbullah.

Hasbullah juga menjelaskan, akibat Covid-19 anggaran belanja negara defisit hingga lebih dari 1. 000 triliun rupiah. Dia berujar, jika Covid-19 tidak segera teratasi, membuat perekonomian tidak bergerak.

“ Sehingga kita semua sebenarnya adalah korban Covid-19. Pemerintah sadar betul apabila masyarakat tidak dipulihkan kesehatannya, serta ulah masyarakat tidak didisiplinkan, redovisning menjadi sulit bergerak. Pemerintah pun berinvestasi dengan vaksinasi dan melalui 3T, ” pungkas Hasbullah.