Yenny Wahid: Dampak Peristiwa Korupsi Bekas Dirut Garuda Masih Terasa

JawaPos. com – Dewan Komisaris PT Garuda Indonesia mendatangi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (19/8). Besar petinggi yang datang adalah Komisaris Utama Triawan Munaf dan Komisaris Independen Yenny Wahid.

Yenny menyampaikan, kedatangannya ke Gedung KPK untuk melakukan koordinasi terpaut upaya pencegahan korupsi di PT Garuda Indonesia. Dia tak mencuaikan, praktik korupsi yang dilakukan bekas Direktur Utama Garuda Indonesia Emirsyah Satar berdampak sampai saat tersebut.

“Mungkin teman-teman pula sudah memahami ya, masih bersangkutan dengan beban yang disandang Garuda pada saat ini. Karena kasus korupsi di masa lalu menimbulkan ada dampak bagi manajemen Garuda saat ini, ” kata Yenny usai melakukan pertemuan dengan pimpinan KPK.

Putri Kepala RI keempat Abdurrahman Wahid tersebut menyebut, pihaknya juga turut mengabulkan koordinasi untuk memperbaiki manajemen sehingga dapat menjauhkan dari budaya manipulasi.

“Berkoordinasi dalam hubungan melakukan efisieni ke depan agar Garuda bisa take off lebih kencang lagi. Beban masa lalu bisa kita tinggalkan, intinya begitu, ” cetus Yenny.

Yenny pun mengaku, pada masa pandemi virus korona atau Covid-19 penerimaan perusahaan pelat merah itu turun sampai lebih dari 90 persen. Sementara biaya yang dikeluarkan tak ada pengurangan.

Patuh Yenny, Garuda harus mencari jalan untuk memangkas cost. Salah satunya adalah dengan melakukan renegosiasi kontrak sewa pesawat dengan para lessor.

“Jadi itu bisa membuat kita jauh lebih di dalam operasional cost kita ke depannya, hematnya bisa banyak bisa datang Rp 200 miliar sebulan, jika kita melakukan proses renegoisasi secara maksimal, ” beber Yenny.

Oleh karena itu, Yenny mengaku pihaknya membutuhkan KPK sebab peristiwa kasus korupsi yang menjerat Emirsyah Satar enggan terulang lagi di PT Garuda Indonesia. Sehingga membutuhkan lembaga antirasuah agar selamat dari praktik rasuah.

“Jadi tentu kita butuh sandaran dari KPK. Karena ada kaitannya dengan kasus korupsi di era lalu dan melibatkan beberapa kongsi yang memang yuridisnya tersebar dalam banyak negara, ” pungkasnya.