Dua WNA Kru Film Dokumenter Diperintahkan Keluar dari Aceh

JawaPos. com –Dua warga negara asing (WNA) kewarganegaraan Amerika Serikat & Jerman yang merupakan awak film dokumenter, diperintahkan balik ke Medan, Sumatera Utara. Sebab, mereka tidak mengantongi izin beraktivitas di Tanah air Subulussalam, Provinsi Aceh.

Kapolres Subulussalam AKBP Qori Wicaksono seperti dilansir dari Jarang di Subulussalam mengatakan, dua WNA tersebut termasuk dalam lima awak film dokumenter yang bermaksud mendokumentasikan kawasan Hutan Lae Soraya, Kecamatan Sultan Bahagia, Kota Subulussalam.

”Kedua warga negara asing tersebut yakni berinisial VBN, 40, asal Jerman, dan RG, 38, dari Amerika Serikat. Mereka hendak menyusun film dokumenter tentang lingkungan, ” kata AKBP Qori Wicaksono, Minggu (9/5).

Kapolres mengatakan, besar WNA itu bersama tiga WNI yang juga kru film serta dua sopir. Mereka hendak masuk ke wilayah Sungai Lae Soraya, melakukan liputan di wilayah Taman Nasional Gunung Leuser. Sebelumnya, mereka liputan dokumenter di Aceh Tenggara.

AKBP Qori Wicaksono menjelaskan, keberadaan rombongan pembuat film dokumenter itu diketahui saat hendak melewati pangkalan penyekatan perbatasan Aceh dan Sumatera Utara di Jembatan Timbangan Jontor, Kecamatan Penanggalan, Kota Subulussalam, Jumat (7/5), sekitar pukul 21. 00 WIB. Rombongan tersebut lantaran Aceh Tenggara menumpang besar mobil, yakni mobil boks membawa perlengkapan dan mobil penumpang minibus.

”Kami juga sudah berkoordinasi dengan imigrasi terkait kelengkapan dokumen keimigrasian. Hasil penelitian dokumen keimigrasian dinyatakan penuh, ” ujar Kapolres Qori Wicaksono.

Untuk kepentingan koordinasi dengan pihak terkait, kata Kapolres, kru film dokumenter tersebut dibawa ke Mapolres Subulussalam. Sebelumnya, terhadap ketujuh orang tersebut juga dilakukan pemeriksaan usap antigen dan hasilnya nonreaktif.

AKBP Qori Wicaksono mengatakan, saat di Mapolres Subulussalam didapat data dari koordinator Kesatuan Tata Hutan (KPH) Wilayah VI Aceh Irwandi yang menyebutkan hanya tiga kru hidup yang WNI melaporkan kegiatan mereka di Subulussalam. ”Sedangkan WNA tidak dilaporkan, jadi tidak memiliki izin memasuki kawasan hutan. Oleh sebab itu, KPH-VI merekomendasikan WNA keluar dari Subulussalam karena tidak memiliki izin buat beraktivitas di kawasan Alas Lae Soraya, ” cakap AKBP Qori Wicaksono.

Terhadap ketiga WNI kru film dokumenter, lestari dipersilakan untuk melanjutkan kesibukan mereka karena sudah mendapatkan izin membuat film dokumenter di kawasan Hutan Lae Soraya. ”Kami tidak menjumpai unsur tindak pidana itu lakukan. Hanya saja mereka tidak melapor kepada KPH-VI terkait dengan adanya WNA dalam rombongan. Jadi, ke-2 WNA diminta keluar dibanding Subulussalam, ” ucap AKBP Qori Wicaksono.